Tuesday, August 6, 2019

Sebuah harapan dari Lembah Merapi-Merbabu

A Road To Anfield
Sebuah petualangan absurb tiada akhir


Sebuah Harapan dari Lembah Merapi-Merbabu 
Agustus 05, 2019



Hari itu langit cerah tatkala kami tiba di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu. Sesuai namanya, pesantren itu berada di dataran tinggi di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pemandangan indah di tempat itu membuat  kami, rombongan yang terdiri dari 65 peserta, berebutan untuk berfoto selfie setibanya di lokasi. Dibanding dari tempat tinggal kami di Jogja, dari sini pemandangan Gunung Merapi tampak lebih dekat dan lebih nyata. 

Setelah puas berswafoto, segelas kopi arabika hangat seakan memberi ucapan selamat datang pada rombongan kami yang baru saja menempuh perjalanan sejauh 45 km dari titik awal keberangkatan di Sidoarum, Yogyakarta. Sekotak snack dihidangkan untuk memberi kami asupan energi yang terkuras karena perjalanan jauh itu. Udara sejuk pegunungan plus panorama yang indah membuat snack yang kami makan terasa jauh lebih nikmat dibanding saat kami memakannya pada tempat dan kesempatan lain.

Di sebuah gasebo kecil yang ada di pesantren itu, tampak para santri sedang berkumpul. Mereka membawa ransel dan rambut mereka dipotong tipis.


Kedai kopi milik Pesantren Masyarakat Merapi-Merbabu
Mekah 12.615 Km.

Madinah 12.382 Km.

Al-Aqsha 12.847 Km.

Jogja 65 Km.

Pada sebuah papan kayu tertulis informasi jarak antara pesantren itu dengan tiga tempat penting dalam Islam, ditambah lagi dengan informasi jarak dari tempat itu ke satu kota besar terdekat. “Berdirinya pesantren ini masih ada kaitannya dengan Masjidil Aqhsa,” kata dr. Rinaldi tegas. Dr. Rinaldi adalah ketua dari organisasi Sedulur Masjid Sidoarum (SMS), organisasi yang mengadakan touring ke pesantren itu. Dalam acara toring bertajuk “Seduluran Tekan Suwargo” itu, SMS mengajak 65 orang yang merupakan jama’ah masjid-masjid yang berada di Sidoarum dan sekitarnya.


Papan penanda jarak
Selain sebagai aktivis masjid, dr. Rinaldi juga aktif berkecimpung di organisasi Sahabat Al-Aqsha, salah satu organisasi yang menjadi penghubung komunikasi antara umat muslim di Indonesia dengan masyarakat yang tinggal di Palestina.

Bertempat di aula pesantren dan di hadapan para peserta rombongan, Dr Rinaldi meneruskan ceritanya. “Waktu erupsi Merapi tahun 2010, salah satu yang memberi pertolongan bagi para pengungsi di sini adalah masyarakat di Palestina dan Suriah. Mereka menitipkan uang. Dari uang yang terkumpul itulah kemudian didonasikan untuk pembangunan pondok ini. Jadi pondok ini bekerja lokal tapi berpikir global,” terang Rinaldi.

dr. Rinaldi (Presiden SMS)

Sementara itu, Fahri Abdul Fatah, salah seorang santri Pondok Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, bercerita bahwa dulunya latar belakang dibangunnya pondok ini adalah untuk memperkuat keimanan dan keislaman para pengungsi. “Waktu tertimpa bencana, biasanya keimanan masyarakat menurun. Oleh karena itu pondok ini didirikan untuk masyarakat agar mereka tidak terpengaruh keyakinan lain,” jelas Fahri.


Pemandangan Gunung Merapi dari Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu

Rombongan SMS


Seperti umumnya pesantren-pesantren yang ada di Indonesia, para santri di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk para santri yang masih kecil, mereka didaftarkan di sana oleh orang tua mereka. Sementara untuk santri pra-SMA, mereka mendaftar sendiri di sana atas dasar keinginan pribadi untuk belajar agama. Selain itu, mereka juga melihat jarang ada pesantren yang diperuntukkan khusus bagi mereka yang lulusan SMA. Oleh karena itu mereka menjatuhkan pilihan di pondok pesantren itu. Harapannya, setelah lulus dari sana mereka dapat menularkan ilmunya ke masyarakat di kampung halaman masing-masing.

Dalam kesehariannya, para santri di pesantren itu halaqoh di kelas dari pagi sampa siang pada hari Senin sampai Sabtu. Sore harinya mereka olahraga. Pada malam harinya, mereka mengikuti pelajaran tambahan. Mereka libur tiap Hari Ahad. Namun tiap sorenya di hari itu, mereka diterjunkan ke desa-desa terdekat untuk mengisi kajian agama. “Para santri di sini diterjunkan di tiap dusun-dusun sekitar untuk menjadi imam sholat dan mengisi kultum-kultum karena masyarakat sini Islam-nya belum kaffah,” terang Fahri.

Tak terasa hari semakin siang. Perbincangan dengan Fahri berakhir. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Sebelum berpisah dengan Fahri, saya sempat bertanya apa rencananya setelah lulus dari pondok pesantren itu. Pemuda asal Sragen itu menjawab ingin melanjutkan studi ke luar negeri, tapi kalau belum sempat, ia akan banyak mengadakan kegiatan yang bermanfaat di kampung halamannya. “Mengamalkan ilmu yang sudah diajarkan di sini, agar tidak hilang,” ujarnya.

Hidangan makan siang bagi para rombongan berupa sayur sup dan ayam goreng disiapkan oleh para santri di sana. Tak lama usai makan siang, Adzan Dhuhur berkumandang. Kami bergegas ke masjid yang berjarak kurang lebih 50 meter dari pesantren. Air wudhu yang dingin memberi kesegaran dan semangat bagi kami untuk beribadah dan berdo’a pada-Nya.

0 comments